Jepara Jan 2014
Getar Getak Musik & Lagu di Tahunan-Street
Pemuda-Langon bersama Komunitas seni musik Jepara, musikus, vokalis dan musik-fans serta Pemuda-Langon menggelar Lives-Music di Jalan Raya Tahunan sekitar Perumnas Tahunan.
Eventnya di teras, yaitu di gerai warung tenda/lesehan 'kopi-malam' atau 'nasi-kucing', dua diantaranya ialah warung kopi Co'arest dan Kopi Racing. Acara dimulai jam 9 hingga 11 malam.
Dengan dekor dan lighting sederhana tanpa panggung dan tratak, para penyanyi & musikus tampil cozy dan sahaja tanpa kostum panggung, Soundnya juga hanya 2 box amplifier tanpa piranti lain. Volume suaranya hanya secukupnya tidak terdengar keras dan tidak pekak. Performancenya seperti artis band 'Country' pub atau lounge-cafe.
Lagu yang dinyanyikan bercampur lagu Indonesia dan Barat, diselingi lagu Jawa Campursari, beragam genre, slow-rock, pop, folks ex Iwan Fals, Jazz, Metal dll. Nyaris tanpa dangdut. sekali dua kadang ada reggae dan rap.
Group Band dan Vokalis yang mengisi acara go-street ini ialah,
Sosialita di event 'Musk Amal Korban Banjir Jepara'.
Khusus beberapa event, komunitas ini mengadakan himbauan Peduli beramal untuk para korban banjir, pengunjung warung kopi, rekan komunitas, musisi dan vokalis serta pengunjung yang mampir ataupun yang sekedar lewat di depan jalan warung kopi.
Dana sukarela tersebut diumumkan berkala atas hasil yang terkumpul dengan transparan, hasilnya dibelikan Nasi bungkus untuk diantar ke area banjir diberikan kepada korban yang terisolir ataupun belum terjangkau Posko bantuan, Spirit positif untuk berbagi dalam bencana dan kesusahan akibat banjir.
Gerakan Simpatik komunitas penggemar musik ini dalam hal kumpulkan dana sukarela untuk amal korban banjir ini patut dipuji, semangat mereka untuk ingatkan agar Peduli dan berbagi atau ber-Amal kepada yang beruntung dan selamat sangat diperlukan di era global yang telah mengikis dan menepis kesadaran ber Prikemanusiaan sebagai insan Sosial atau Sosialita.
Pemuda Musik Fans dan komunitas musisi ini melakukan itu secara spontanitas dalam kebersamaan, dengan iklas tanpa kepentingan apapun, tidalk untuk dikenal, tidak harap imbalan, maupun berupa pujian maupun pengakuan. Ketulusan dan keiklasan mereka yang notabena dianggap kaum marginal atau pinggiran dibanding dengan kaum mapan elite ternyata lebih peka kesadarannya dalam hal kemanusiaan atau sosialita.
Dalam konteks ini bukan materi atau nilai besaran unag, namun inisiatip dan pro-aktip serta tekad mereka yang digaris bawahi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar